Tips Memiliki Rumah melalui KPR

By | October 14, 2012

Rumah merupakan salah satu dari kebutuhan utama manusia. Setiap orang mendambakan untuk memiliki rumah yang nyaman sebagai tempat tinggal. Walaupun demikian masih banyak orang yang belum memiliki rumah sendiri, yang salah satu masalahnya karena minimnya kondisi keuangan untuk membangun atau membeli rumah. Tapi sekarang tak perlu khawatir lagi, karena kita bisa memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan rumah (KPR) yang saat ini sudah ditawarkan oleh hampir seluruh Bank di sekitar anda (kecuali Bank Indonesia dan Info Bank. Hehe…..).

Untuk memanfaatkan Fasilitas KPR ini ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu mengenai seluk beluk KPR itu sendiri. Untuk definisinya sendiri KPR dapat diartikan sebagai Fasilitas Kredit yang ditawarkan kepada nasabah perorangan untuk pembelian atau pembangunan rumah.

Menurut sumber pembiayaannya KPR terbagi menjadi 2 jenis:
1. KPR Subsidi, adalah KPR yang sebagian atau dapat juga seluruh dana pembiayaannya dari dana pemerintah, biasanya disalurkan oleh Kementrian Perumahan Rakyat dengan sasaran Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Untuk saat ini terkenal dengan nama Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
2. KPR Non Subsidi, adalah KPR yang dana pembiayaannya bukan dari pemerintah. Biasanya murni dari Bank yang menyalurkan. Boleh dikatakan KPR untuk masyarakat umum tanpa ada batasan penghasilan dan aturan-aturan tertentu.

Uang Muka
Untuk uang muka ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan. Sesuai Peraturan dari Bank Indonesia yang berlaku sejak pertengahan tahun 2012 bahwa minimal uang muka didasarkan pada tipe rumah. Untuk tipe rumah maksimal 70 meter persegi uang muka minimal adalah 20% dari harga jual rumah, sedangkan untuk tipe diatas 70 meter persegi minimal uang muka yang harus dikeluarkan adalah 30% dari nilai jual rumah. Perlakuan khusus untuk KPR subsidi uang muka minimalnya bisa hanya 10% dari harga jual rumah.

Sistem Perhitungan Bunga dan Nilai Suku Bunga
Untuk kredit secara umum biasanya ada 3 sistem bunga yang dipakai, yaitu sistem bunga Flat, Efektif, dan Anuitas. Untuk KPR Bank biasanya menggunakan sistem bunga Anuitas, dikarenakan jangka waktu KPR biasanya panjang antara 10 sampai dengan 30 tahun. Selain itu yang penting untuk diperhatikan adalah nilai suku bunga. Jangan tertipu dengan suku bunga rendah yang ditawarkan oleh Bank, karena biasanya hanya bersifat gimmick saja untuk menarik perahatian konsumen. Biasanya bunga rendah di tahun-tahun awal dan akan melonjak pada tahun berikutnya. Oleh karena itu benar-benar dipastikan suku bunganya, bila perlu bandingakan penawaran dari tiap-tiap bank dan tetap mengacu pada Suku Bunga Bank Indonesia.  

Biaya Proses KPR
Biaya proses KPR adalah biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk mendapatkan fasilitas KPR. Biasanya meliputi biaya administrasi, provisi, biaya appraisal, biaya notaris, biaya pengikatan (APHT), premi asuransi jiwa dan property (untuk bahaya kebakaran, atau pada daerah tertentu bisa ditambahkan asuransi gempa bumi)  

Syarat-syarat KPR
Fotocopy KTP, Kartu Keluarga, Surat Nikah/Cerai Pas Foto terbaru Pemohon & Pasangan
Asli slip gaji terakhir atau Surat Keterangan Penghasilan
Fotocopy SK Pengangkatan Pegawai Tetap
Fotocopy Tabungan/Giro di Bank min. 3 (tiga) bulan terakhir
Fotocopy SPT Pph Ps.21 untuk kredit >Rp 50 juta s/d Rp 100 juta
Fotocopy NPWP untuk permohonan kredit > Rp 100 juta
Fotocopy Akta Pendirian Perusahaan berikut perubahannya, SIUP, TDP & SITU (untuk wiraswasta) Fotocopy Ijin-ijin praktek (untuk profesional) Fotocopy SHM/SHGB/ dan IMB

Hal-hal yang perlu diperhatikan

  1. Pilihlah Bank yang sudah berpengalaman dan terkemuka dalam menangani Kredit KPR
  2. Bila membeli rumah dari perorangan, pastikan bahwa sertifikat yang ada tidak bermasalah dan ada IMB sesuai dengan kondisi bangunan yang ada. 
  3. Bila membeli rumah dari Developer, pastikan bahwa Developer dimaksud telah mempunyai ijin-ijin, antara lain: Ijin Peruntukan Tanah : Ijin Lokasi, Aspek Penata-gunaan lahan, Site Plan yang telah disahkan, dan sebagainya Prasarana sudah tersedia Kondisi tanah matang Sertifikat tanah minimal SHGB atau HGB Induk atas nama penjual atau developer IMB Induk 
  4. Kenali reputasi penjual (perorangan atau developer). 
  5. Jangan melakukan transaksi jual beli di bawah tangan, artinya apabila rumah yang akan dibeli masih dalam status dijaminkan di bank, maka lakukanlah pengalihan kredit pada bank yang bersangkutan dan dibuat akte jual beli di hadapan notaris. Jangan sekali-kali melakukan transaksi pengalihan kredit di bawah tangan, artinya atas dasar kepercayaan saja dan tanda buktinya hanya berupa kwitansi biasa, karena bank tidak mengakui transaksi yang seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *