Jembatan Ampera Icon Kota Palembang

By | October 10, 2016

1.  Sejarah Pembangunan
     
Jembatan Ampera pada saat dibangun
Sebelum dibangunnya jembatan Ampera, sebenarnya sejak jaman penjajahan Belanda telah muncul ide untuk untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, tepatnya pada zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Selanjutnya pada saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.
Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya, pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00. Lalu pada tahun 1957 dibentuk panitia pembangunan yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin dan Indra Caya. Kemudian Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno untuk mendapatkan dukungan merealisasikan renacan tersebut.
Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno menyetujui usulan pembangunan jembatan tersebut karena rencananya jembatan akan dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota Palembang. Bung Karno kemudian mengajukan syarat, yaitu penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Selanjutnya dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961 dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).
Masterplan menara Jembatan Musi
(Sumber: Koleksi pribadi Bapak Anwar Rifai).
Pembangunan jembatan pun akhirnya dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bahkan bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut dalam perencanaan dan pembangunannya. Adalah perusahaan kontraktor Fuji Shario Manufactur Co. Ltd yang berkedudukan di Osaka, Jepang (yang mempunyai perwakilan di Indonesia yakni Moestika Ratoe Trading Co. Ltd) yang ditunjuk untuk pembangunan jembatan dan merupakan perusahaan yang telah banyak membuat jembatan-jembatan diberbagai negara Asia.
Setelah pembangunan selesai jembatan diresmikan pemakaiannya tepat pada tanggal 30 September 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara.

2. Struktur konstruksi
      
Masterplan menara Jembatan Musi
(Sumber: Koleksi pribadi Bapak Anwar Rifai).

     Panjang : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)

Lebar : 22 m
Tinggi : 11.5 m dari permukaan air
Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah
Jarak antara menara : 75 m
Berat : 944 ton

3.  Bagian tengahnya Bisa diangkat
Bagian tengah Jembatan Ampera dapat
diangkat ketika ada kapal lewat
Pada awalnya bagian tengah Jembatan Ampera dapat diangkat vertikal agar dapat dilalui oleh kapalkapal besar yang akan mengambil muatan batubara dari pelabuhan Kertapati. Mekanisme cara mengangkat bagian jembatan agar dapat turun naik dilakukan secara hidrolis. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.
Sejak tahun 1970, Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaik turunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dua daerah Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi.
Alasan lain karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi. Pendangkalan yang semakin parah menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa dilayari kapal berukuran besar. Sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan .
Pada tahun 1990, dua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan, yang masing-masing seberat 500 ton, dibongkar dan diturunkan karena khawatir jika sewaktu-waktu benda itu jatuh dan menimpa orang yang lewat di jembatan.


4.  Dipengaruhi situasi politik dan penguasa
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Namun Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Walaupun sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.
Selain itu warna jembatan Ampera sejak awal dibangun adalah abu-abu, tetapi pada tahun 1992 ketika orde baru masih berkuasa jembatan ini diganti warna menjadi kuning. Sampai pada pada tahun 2002 ketika jaman pemerintahan Ibu Megawati warna jembatan diganti lagi menjadi merah dan bertahan hingga saat ini.

5.  Ampera saat ini
Saat ini Jembatan Ampera menjadi icon Kota Palembang dan terdapat pada logo Provinsi sumatera Selatan. Masyarakat kota Palembang sepakat, jembatan yang menghubungkan wilayah seberang ilir dan seberang ulu ini merupakan simbol kota yang menjadi kebanggaan masyarakat Palembang. Kalau orang-orang bilang belum ke Palembang kalau belum ke Ampera.
Sebagai ikon kota Palembang, Jembatan Ampera terus mengalami perubahan dan peremajaan. Jembatan Ampera di kala malam akan dihiasi lampu-lampu sehingga nampak indah dan eksotis. Banyak yang berpendapat, menyaksikan jembatan ampera di kala malam seperti menyaksikan eksotika venesia di Italia. Dari atas jembatan ampera akan terlihat Benteng Kuto Besak yang masih kokoh berdiri. Sementara plasa benteng kuto besak terdapat pasar kuliner malam yang selalu dipenuhi para pengunjung. Tak heran jika banyak yang berpendapat, melancong ke Palembang belum lengkap jika belum menyaksikan keindahan jembatan ampera di malam hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *