Parenting: Mengajarkan Self Control – Delaying Gratification pada anak

By | October 7, 2016

Masa anak-anak khususnya balita adalah masa di mana saatnya orang tua menanamkan nilai-nilai yang akan menjadi panduan perilaku seorang anak ketika ia menginjak usia remaja dan dewasa nanti. Nilai-nilai tersebut bisa positif bisa juga negatif, tergantung mana yang kita contohkan kepada anak tersebut. Sebagai orang tua tentu kita memiliki tanggung jawab utama untuk selalu menanamkan nilai yang positif, walaupun tanpa sadar ada nilai-nilai yang mungkin dapat berefek negatif yang tanpa sengaja kita contohkan kepada anak-anak kita.

Salah satu nilai penting dan memiliki peran signifikan terhadap berbagai macam hal positif dalam kehidupan remaja adalah kemampuan untuk mengontrol diri (self control) dan untuk bisa menunda kepuasan (delaying gratification). Kedua hal tersebut merupakan istilah psikologi untuk sebuah kemampuan seorang anak dalam memahami bagaimana mengendalikan dirinya dalam waktu dan situasi apa sebuah keinginan atau kepuasan sesaat harus ditunda demi mendapat kepuasan yang lebih besar.
Sebagai contoh, ada seorang anak yang sedang ikut ibunya ke pasar untuk membeli kebutuhan bulanan dan ketika mereka sampai di pasar si anak tanpa sengaja melihat mainan-mainan yang dijual di toko sehingga si anak merengek kepada sang ibu untuk dibelikan mainan tersebut. Katakanlah mainan yang diminta adalah mobil-mobilan. Kemudian si ibu membelikan sebuah mobil-mobilan untuk anaknya tersebut, dan kebetulan si anak tadi mempunyai seorang kakak yang umurnya tidak jauh berbeda dengan dirinya, sehingga sang ibu membelikan satu lagi mobil-mobilan dengan jenis berbeda untuk diberikan kepada sang kakak di rumah agar anak-anaknya memiliki masing-masing satu mobil-mobilan. Tetapi si adik tidak tidak mau dibelikan hanya satu mobil-mobilan, dia minta dibelikan dua sehingga dia meminta dengan memaksa hingga menangis. Maka di sinilah peran sang ibu untuk menanamkan nilai bahwa jika dibelikan dua akan menjadi boros, bukankah dia bisa saling bertukar pinjam dengan saudaranya. Dalam hal ini bukan karena sang ibu tidak mampu untuk mebelikan satu lagi, tetapi penting untuk menanamkan bahwa sang anak harus menahan diri dan tidak semua apa yang ia inginkan pada saat itu harus dipenuhi.
Kemampuan mengendalikan diri dapat dilatih sejak bayi, yaitu melalui rutinitas. Ahli mengatakan, keterampilan mengendalikan diri berkembang melalui tiga fase. fase pertama yaitu sampai anak berusia sekitar 18 bulan, disebut fase kontrol. Di mana perilaku anak masih dikendalikan oleh lingkungan sekitarnya yaitu orangtua. fase kedua disebut fase self control, ditandai dengan kesadaran anak melakukan kewajiban tanpa pengawasan. fase ketiga, atau yang terakhir, adalah kemampuan anak menyesuaikan dan mengatur diri dalam berbagai kondisi.
Sebuah eksprimen terkenal terkait kemampuan self control dan delaying gratification adalah Marshmallow Test. Eksperimen ini dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai menunda kepuasan. Dilakukan pada tahun 60an dan sejak itu percobaan ini pun sering dilakukan ulang oleh peneliti lain, Mischel mengetes beberapa anak berumur empat dan lima tahun di Taman Kanak-kanak Bing di dalam kampus Universitas Stanford. Masing-masing dari anak tersebut dibawa ke dalam suatu ruangan dan sebuah marshmallow ditaruh di meja di depan anak tersebut. Mereka diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow tersebut sekarang, tetapi apabila mereka menunggu 20 menit, Mishcel akan kembali dan memberikan mereka tambahan satu marshmallow. Hasil dari percobaan tersebut adalah sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow dan sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kepuasaannya saat ini untuk mendapatkan kepuasan yang lebih pada masa mendatang.
Namun, hasil yang mengejutkan dari percobaan ini justru didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah memasuki sekolah menengah. Beberapa tahun kemudian, Mischel yang memiliki tiga orang anak perempuan yang dulu juga bersekolah di Bing, bertanya mengenai keadaan teman-teman anaknya dari taman kanak-kanak. Ia kemudian menyadari bahwa terdapat perbedaan antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak dalam nilai akademis mereka. Kemudian, pada tahun 1981, Mischel mengirimkan kueisioner kepada orang tua, guru dan pembimbing akademis dari anak-anak yang dulu ikut berpartisipasi dalam percobaan ini. Ia bertanya mengenai sifat mereka, kemampuan mereka untuk berencana dan mengatasi masalah serta berhubungan dengan teman-teman. Ia juga meminta nilai tes SAT mereka (tes standar untuk penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi di AS). Ia lalu menemukan bahwa anak-anak yang dapat menunggu memiliki nilai rata-rata 201 poin lebih baik dari mereka yang tidak bisa menunggu.
Dengan menanamkan self control dan delaying gratification kepada anak, akan membentuk perilaku positif ketika mereka masuk ke dalam usai remaja. Anak-anak akan terbiasa dan paham dalam mendapatkan sesuatu hal yang besar dibutuhkan sebuah perjuangan, kejujuran dan kerja keras, bukan dengan instan. Mereka menjadi lebih mengerti bahwa terkadang harus rela melakukan pengorbanan saat ini demi kebaikan di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *